Jenis, arti dan filosofi tato Dayak

Tato pria dan wanita Dayak (Sumber: https://www.youtube.com)

Bicara soal jenis dan arti tato sangat bervariasi antara sub suku Dayak satu dan lainnya. Beragam jenis motif beragam jenis pula maknanya. Mengapa tidak? beragam jenis tato motif Dayak ini menggambarkan betapa kayanya kreatifitas yang sudah terbangun dari jaman dahulu sampai jaman sekarang. Penasaran apa saja jenis dan arti tato motif Dayak yang biasa Kamu kenal?

Tidak semua suku Dayak memaknai tato sebagai ungkapan akan identitas dan eksistensinya. Kalaupun ada menjumpai orang punya tato motif Dayak di badan dengan beraneka ragam warna, gambar dan bentuk itu merupakan salah satu bentuk kekaguman dan seni saja. Namun terlepas dari semuanya itu tato tradisi yang hidup tetap memiliki makna reliji dan filosofis yang tinggi.

Adat dan tradisi tato mempunyai beberapa fungsi dari sekian banyak fungsi dan makna lainnya seperti:
1. seseorang benar-benar asli keturunan Dayak
2. melindungi dari roh jahat.
3. penghargaan karena suka menolong dan ahli dalam pengobatan.
4. berani me-ngayau atau "memenggal kepala" dalam medan perang.
5. bukti merantau di berbagai macam daerah/suku.
6. bagi wanita yang sudah dewasa dan siap menikah. 
7. penanda status sosial dalam masyarakat.

Identitas Asli Keturunan Dayak
Memiliki tato dahulu dan masa kini tetap membekas di hati suku Dayak bahwa tato yang dimiliki merupakan bukti identitas asli suku Dayak. Meskipun orang lain tidak akan pernah meragukan seseorang mempunyai tato yang pastinya berasal/keturunan suku Dayak. Masa kini tato motif Dayak sudah banyak juga digemari sampai ke mancanegara. Setiap daerah memiliki gambar dan bentuk sendiri-sendiri menandakan suku Dayak memiliki karakter dan pemahaman sendiri mengenai jenis dan arti tato dikalangannya. 

Suku Dayak meyakini dengan memiliki tato pada bagian-bagian tubuh sebagai bentuk penghargaan akan keahlian khusus, prestise, status sosial, penolak bala, dan keberanian. Pastinya tato merupakan kekayaan dan kebanggaan hasil budaya yang tetap ada. Tattoo tradisi sudah terkikis bahkan sudah punah pada sekian banyak kelompok suku Dayak hal ini bukan merupakan indikasi hambatan kemajuan seni ini.

Melindungi dari roh jahat
Masyarakat subsuku Dayak mempunyai keyakinan bahwa malapetaka dan sakit merupakan gangguan dari roh jahat. Hal ini diakibatkan seseorang telah merusak keseimbangan sosial dan alam. Seseorang yang mengalami sakit diyakini akibat oleh roh jahat. Masuknya roh jahat ini diakibatkan kekurangbaikan sopan santun dan moral. maka akan dilakukan upacara pengobatan.  Bila sang dukun tidak berhasil mengobati maka akan ditempuh cara lain dengan membuat sesajian untuk menyenangkan roh jahat tersebut. 

Demi mencegah seseorang agar tidak mengalami sakit kembali, tattoo diberikan sebagai simbol biasanya berbentuk tanaman pada lengan tangannya agar si sakit instropeksi diri dan sekaligus penangkal roh jahat itu sendiri. Masyarakat suku Dayak Iban memiliki tattoo pada bagian atas dan bawah bahu menggambarkan daun pohon pinang merupakan senjata ampuh menangkal berbagai serangan roh jahat. Tato yang dimiliki ini menjadi aksi kamuflase (samar) saat bertemu roh jahat dan para pengayau.

Suka menolong dan ahli dalam pengobatan
Bagi masyarakat suku Dayak yang bermukim di daerah perbatasan Indonesia dan Sarawak Malaysia, tato di sekitar jari menunjukan seseorang suka menolong dan ahli dalam pengobatan. semakin banyak tato yang dimiliki sekitar jari tangan juga menunjukan semakin ahli dalam pengobatan. Tato jenis ini terdapat pada laki-laki maupun wanita.

Mengayau/bakayo
Mengayau atau bakayo merupakan tradisi sangat sakral bagi suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah. Mengayau merupakan bukti kehebatan dan keberanian seseorang berhadapan dengan musuh di medan pertempuran. Tindakan mengayau ini yaitu dengan "memenggal kepala" musuh yang nantinya dijadikan bukti dan ritual khusus. Sebagai buktinya seseorang yang gagah berani dan perkasa ini dihadiahi tattoo khusus pada tangannya (tidak tahu persis gambar dan bentuk tatonya). Sejak terjadi Perjanjian Tumbang Anoi (1874) diserukan semua suku sepakat mengakhiri perselisihan tidak lagi mengayau dan harus damai.

Bukti merantau di berbagai daerah/suku.
Suku Dayak Kenyah dan Kayan memiliki tato yang banyak pada bagian-bagian tubuh menunjukan seseorang sudah banyak melakukan pengembaraan/merantau di berbagai macam daerah/suku. Jarak antar kampung yang dimaksud tidaklah dekat seperti yang kita bayangkan. Dengan letak geografis di Kalimantan yang didominasi hutan belantara, jarak tempuh merantau memerlukan waktu yang lama hingga ribuan kilometer. Bagi Suku Dayak Iban, tato motif buah andu yagn diukir di belakang paha dan bunga ngkabakng (tengkawang) yang diukirkan pada perut memberi arti sebagai pemberi kehidupan saat melakukan perjalanan merantau atau perjalanan jauh.

Wanita sudah dewasa dan siap menikah
Bila seorang pria diukur kejantanannya dari seberapa banyaknya mengayau, demikian juga wanita pada suku Dayak Iban ketrampilan menyanyi, membuat kerajinan dan menari juga menjadi prestise tersendiri. Menyanyi, membuat kerajinan dan menari menjadi prasyarat seseorang menempuh bahtera keluarga dalam pernikahan. Keahlian dalam menenum misalnya wanita suku Dayak Kenyah mendapatkan tato pada jari tangan dengan motif yang unik berbentuk paku hitam dan garis-garis melintang pada kedua jari tangannya.

Pada suku Dayak kenyah pembuatan tato dimulai dari umur 16 tahun atau pertama kali haid.  Pada suku Dayak Apo-Kayan (Kalimantan Barat) perbatasan dengan Sarawak dahulu wanita yang tidak memiliki tato kerap menjadi bahan olokan teman sebaya karena dianggap belum dewasa. Pada suku Dayak Iban, kaum wanita memiliki tato kelingai/klinge pada bagian paha menunjukan status sosial yang tinggi. Tato diyakini selain mengusir roh-roh jahat yang mengganggu juga sebagai prestise seseorang. Sudah memiliki tato bagi para wanita suku Dayak tersebut bukanlah selesai sampai disitu. Perjalanan selanjutnya mereka sudah siap menikah dengan pasangannya. 

Status Sosial
Bagi suku Dayak Kenyah dan Iban tato burung enggang dimiliki oleh kaum bangsawan/terkemuka dalam masyarakat. Burung enggang merupakan burung endemik yang dikeramatkan menjadi raja dari segala burung dan melambangkan sosok yang gagah, berwibawa dan jaya. Demikian juga bagi suku Dayak Iban Tetua adat beserta keluarganya di-tato dengan gambar tato yang mewakili dunia atas hingga yang abstrak.

Pada suku Dayak Ngaju tato menunjukan kepahlawanan seseorang. Bila tidak memiliki tato dianggap tidak kuat dan jantan. Juga tato diberikan sebagai tanda lulus kinyah yang merupakan seni mempelajari gerakan tari perang menggunakan mandau dan memenggal kepala musuh maka betis kakinya diberikan tato.

Yang tidak kalah uniknya juga pada suku Dayak Iban memiliki jenis dan arti tato yang bermacam-macam pula. Gambar dan bentuk yang diambil juga berasal dari alam seperti bunga terong, ketam, kelingai, buah andu, bunga ngkabang (tengkawang). Tato ini mempunyai arti bahwa memberikan kehidupan dan tidak terlepas dari alam.

Khusus motif rekong (leher) diberikan kepada seseorang yang terkemuka seperti Timanggong/Temanggung dan Panglima atau orang yang di-tua-kan di kampung halaman sendiri maupun di perantauan Dayak Iban, Taman,dan Kayan merupakan kelompok suku Dayak yang biasanya memiliki jenis tato rekong (leher). Klinge/kelingai biasanya di-tato pada paha atau betis.

Referensi:
1. http://www.getborneo.com/mengenal-tato-suku-dayak-kalimantan/
2. http://humabetang.web.id/dayak/budaya/2013/makna-tat0-bagi-masyarakat-dayak
3. Buku Resensi Tato oleh Hatib Abdul Kadir Olong di  http://books.google.co.id
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Ngayau
5. https://folksoftdayak.wordpress.com/2013/10/13/tattoo-dalam-budaya-dayak-ngaju/
6. http://indonesiaindonesia.com/95547-rajah-tato-khas-borneo-suku-dayak/
7. https://ibanology.wordpress.com/category/pengarap-asal/page/4/
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url