Foto babi sedang istirahat |
Babi dalam Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Dayak
Di masyarakat suku Dayak, babi memiliki posisi yang sangat penting. Hewan ini tidak hanya dipandang sebagai sumber protein hewani utama selain ayam kampung, tetapi juga memiliki nilai sosial, ekonomi, dan budaya yang mendalam. Hampir setiap rumah tangga di pedesaan Dayak, terutama yang masih mempertahankan tradisi, memiliki babi sebagai salah satu ternak wajib.
Jika berkunjung ke sebuah kampung Dayak, pemandangan babi yang berkeliaran bebas di jalan desa, halaman rumah, atau sekitar hutan kecil di pinggir kampung bukanlah hal asing. Walaupun terlihat seperti tidak bertuan, setiap babi tersebut sebenarnya memiliki pemilik yang jelas. Keberadaan babi yang dilepaskan secara liar mencerminkan salah satu cara pemeliharaan tradisional masyarakat: sederhana, minim biaya, tetapi penuh risiko.
Nilai Budaya dan Adat-Istiadat
Babi bagi masyarakat Dayak tidak hanya berfungsi sebagai pangan. Ia adalah simbol adat. Dalam berbagai prosesi adat—mulai dari perkawinan, penyambutan tamu penting, hingga ritual kematian—babi hampir selalu hadir sebagai hewan kurban. Memotong babi dalam sebuah upacara adat bukan hanya sekadar menyediakan daging untuk dimakan bersama, tetapi juga menjadi tanda kehormatan, penghormatan kepada leluhur, dan simbol solidaritas sosial.
Maka, beternak babi sebenarnya adalah bagian dari menjaga keberlanjutan budaya Dayak. Jika pemeliharaan babi menurun, otomatis nilai adat yang melekat pada hewan ini juga terancam berkurang. Inilah sebabnya penting sekali mengembangkan sistem pemeliharaan babi yang lebih baik agar nilai tradisi tetap terjaga sambil tetap memberi manfaat ekonomi bagi keluarga.
Tantangan dalam Pemeliharaan Babi Masa Kini
Walaupun pemeliharaan babi adalah tradisi yang sudah turun-temurun, di era sekarang ada tantangan besar yang dihadapi:
-
Ketersediaan Pakan
Masyarakat semakin sulit mendapatkan bahan pakan alami. Hutan yang dulu menyediakan sumber pakan alami mulai berkurang karena pembukaan lahan. Dedak padi yang dulunya melimpah kini ikut bersaing dengan kebutuhan manusia. Hal ini menyebabkan biaya pemeliharaan meningkat. -
Masalah Sosial dan Lingkungan
Pemeliharaan babi secara liar sering menimbulkan konflik. Babi bisa merusak kebun warga, menimbulkan kerugian, bahkan menimbulkan gesekan antar tetangga. Selain itu, kotoran babi yang dibiarkan mencemari lingkungan bisa menimbulkan masalah kesehatan. -
Kesehatan Ternak
Babi yang dipelihara tanpa kandang lebih rentan terserang penyakit menular, misalnya cacingan, kolera babi, hingga ASF (African Swine Fever) yang kini menjadi ancaman global. Ketika penyakit mewabah, bukan hanya satu ekor, tetapi seluruh populasi bisa terancam. -
Harga Daging Babi Tinggi
Biaya pemeliharaan yang tinggi akibat sulitnya mendapatkan pakan membuat harga daging babi di pasar menjadi mahal. Akibatnya, konsumsi daging babi oleh masyarakat sendiri berkurang, sementara kebutuhan adat tetap harus dipenuhi.
Solusi: Beralih ke Pemeliharaan Modern
Masyarakat kini perlu mengubah cara pandang dalam memelihara babi. Dari sekadar “melepas liar” menjadi lebih terkontrol dengan sistem pemeliharaan kandang. Memelihara di kandang bukan hanya untuk kenyamanan pemilik, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial agar babi tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain.
Pemeliharaan kandang memberikan banyak keuntungan:
-
Mudah mengontrol pertumbuhan babi.
Pemberian pakan bisa terukur.
-
Kesehatan ternak lebih terjamin.
-
Limbah kotoran bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana menyediakan pakan yang cukup, murah, dan bergizi.
Inovasi Pakan Fermentasi: Solusi Pakan Murah dan Bergizi
Salah satu solusi yang kini banyak dipraktikkan adalah pembuatan pakan fermentasi. Teknik ini menggunakan bantuan mikroorganisme (bakteri baik/EM4) untuk memfermentasi bahan-bahan lokal yang mudah ditemukan, seperti dedak padi, ubi kayu, batang pisang, ampas tahu, daun keladi, hingga keong mas.
Kelebihan pakan fermentasi antara lain:
-
Kandungan gizi meningkat.
Membuat babi cepat gemuk dengan daging rendah kolesterol.
-
Nafsu makan babi meningkat.
-
Bau kotoran berkurang sehingga kandang lebih bersih.
-
Biaya pakan lebih murah karena memanfaatkan bahan sekitar.
Cara Membuat Pakan Fermentasi
-
Siapkan bahan lokal: dedak padi, jerami, batang pisang, ampas tahu, dll.
-
Tambahkan larutan EM4 (1 cangkir) yang sudah dicampur dengan 10 liter air.
-
Tambahkan molase (larutan gula merah/gula pasir).
-
Aduk rata hingga lembab (30–40%).
-
Simpan dalam ember tertutup selama 4–6 hari.
Setelah fermentasi selesai, pakan siap diberikan sesuai kebutuhan umur dan berat ternak.
Kebutuhan Gizi Babi Berdasarkan Umur
Umur Ternak | Berat (Kg) | Kebutuhan Protein (%) | Pakan/hari (Kg) |
---|---|---|---|
2–4 bulan | 10–12 | 18–20 | 0,25–0,5 |
4–6 bulan | 22–57 | 16–18 | 1–1,5 |
Penggemukan | 50–90 | 14–16 | 2–2,5 |
Induk bunting | 80–100 | 14–16 | 2,5 |
Induk beranak | 80–100 | 16 | 4 |
Pejantan | 80–100 | 14–16 | 4 |
Dengan takaran ini, babi bisa tumbuh optimal sesuai tahapannya.
Ekonomi dan Livelihood: Babi Sebagai Sumber Penghidupan
Selain untuk konsumsi dan adat, babi juga menjadi sumber ekonomi keluarga Dayak. Hasil penjualan babi atau daging babi sering digunakan untuk biaya sekolah anak, keperluan rumah tangga, bahkan untuk membiayai upacara adat lainnya.
Bahkan, bagi sebagian masyarakat, beternak babi bisa menjadi usaha kecil menengah (UKM) yang menjanjikan. Jika dikelola dengan baik, bukan hanya menghasilkan babi untuk pasar lokal, tetapi juga bisa masuk pasar kota dengan harga jual lebih tinggi. Ditambah lagi, jika ada keahlian membuat pakan sendiri, maka peluang menjual pakan fermentasi ke peternak lain terbuka lebar.
Pemanfaatan Limbah Ternak Babi
Pemeliharaan babi modern juga mendorong pemanfaatan limbah. Kotoran babi, jika dikelola, bisa dijadikan pupuk organik untuk tanaman padi, sayuran, atau tanaman hortikultura lain. Beberapa desa di Kalimantan bahkan mulai mengembangkan biogas sederhana dari kotoran babi untuk sumber energi rumah tangga.
Saatnya Berubah
Pemeliharaan babi bukan hanya soal menghasilkan daging untuk makan atau upacara adat, tetapi juga tentang menjaga budaya, meningkatkan ekonomi keluarga, dan mengurangi masalah sosial. Sudah saatnya masyarakat Dayak meninggalkan cara pemeliharaan tradisional yang melepas babi secara liar, dan mulai mengadopsi teknik beternak yang lebih baik: kandang yang sehat, pakan fermentasi, dan manajemen kesehatan ternak.
Dengan begitu, babi tidak hanya tetap menjadi simbol adat, tetapi juga menjadi sumber kehidupan dan keberlanjutan bagi generasi Dayak masa kini dan mendatang.
Sumber:
http://elmanlaia.blogspot.co.id/2014/08/pakan-babi-sistim-fermentasi.html
Cara Membuat Pakan Fermentasi Babi Pakan Babi Pakan Fermentasi Babi Pemberdayaan Ternak Babi