f Diawasi kerja sampai detil-detil jadi rumit/ribet sebenarnya apa dan mengapa terjadi, here we go!

Diawasi kerja sampai detil-detil jadi rumit/ribet sebenarnya apa dan mengapa terjadi, here we go!


Apakah pernah mengalami dimana saat bekerja selalu di awasi oleh atasan sampai ke pekerjaan yang detil-detil. Mungkin ada yang berpikir bahwa hal itu baik dan menganggap tindakan tersebut bentuk ketelitian. Fenomena tersebut bukan sekadar gaya kepemimpinan yang tegas, melainkan sebuah pola pengawasan berlebihan yang justru dapat melumpuhkan kreativitas dan efisiensi. Di sini akan dibahas akar permasalahan hingga solusi praktis untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan mandiri.

Apa itu micromanagement?

Micromanagement barangkali sering kita dengar dalam keseharian pekerjaan adalah gaya memimpin di mana seorang pemimpin atau manajer mengamati dan mengendalikan pekerjaan bawahannya secara berlebihan hingga ke detail terkecil. Bukannya memberi arahan strategis, seorang mikromanajer malah mendikte setiap langkah yang harus diambil oleh anggota timnya. Hal ini sering kali membuat karyawan merasa tidak dipercaya dan kehilangan otonomi/kemandirian dalam bekerja.

Mengapa?

Ternyata dari penyebab micromanajer kita dapat memahami penyebab micromanagement dan langkah memperbaikinya. Niatnya sebenarnya ingin memperbaiki, bukan didasari oleh niat buruk, melainkan berhubungan dengan faktor psikologis dan struktural berikut:

1. Rasa Kurang Percaya (Trust Issues)

Banyak manajer merasa bahwa jika mereka tidak turun tangan langsung, pekerjaan tidak akan selesai dengan standar yang mereka inginkan. Mereka merasa hanya cara merekalah yang paling benar dan efektif.

2. Ketakutan akan Kegagalan

Dalam banyak kasus, mikromanajer adalah orang-orang yang sangat perfeksionis. Mereka merasa bahwa kesalahan sekecil apa pun dalam tim akan berdampak langsung pada reputasi mereka di mata atasan yang lebih tinggi. Memang apabila bawahan kurang cakap tanggung jawab pemimpin, namun kepercayaan juga dibangun agar lebih berkualitas lagi.

3. Transisi dari Spesialis ke Manajer

Ini adalah penyebab paling umum. Seorang karyawan yang sangat ahli di bidang teknis dipromosikan menjadi manajer. Karena terbiasa "mengerjakan sendiri," mereka kesulitan untuk melepaskan tugas teknis tersebut dan malah terus mencampuri pekerjaan teknis bawahannya daripada fokus pada kepemimpinan strategis.

4. Perasaan Insecure (Ketidakamanan)

Beberapa manajer merasa perlu mengendalikan segalanya untuk membuktikan bahwa mereka masih memiliki kendali atau kekuasaan atau mungkin juga supaya merasa dilihat berperan dan kerja. Mereka merasa terancam jika bawahan mereka tampak terlalu mandiri atau lebih menonjol. Meminta bawahan sesering mungkin melaporkan pekerjaannya.

Dampak Negatif Micromanagement bagi Perusahaan

Meskipun tujuannya mungkin untuk memastikan sesuatu yang dikerjakan itu berkualitas, micromanagement justru membawa dampak buruk secara jangka panjang, seperti:
  1. Penurunan Produktivitas: Waktu terbuang sia-sia karena proses persetujuan yang berbelit-belit untuk hal-hal sepele.
  2. Kematian Inovasi: Karyawan menjadi takut untuk mencoba ide baru karena tahu bahwa pada akhirnya mereka hanya harus mengikuti instruksi kaku dari atasan. Mental bekerja "mencari aman" menjadi patokan bekerja.
  3. Tingkat Burnout yang Tinggi: Tekanan terus-menerus dan rasa diawasi setiap detik membuat tingkat stres karyawan meningkat drastis.
  4. Turnover Karyawan Tinggi: Talenta-talenta terbaik biasanya adalah mereka yang menghargai kemandirian/otonomi. Jika mereka merasa terkekang, mereka akan segera mencari peluang di perusahaan lain.

Di Mana Letak Kesalahannya?

Mungkin kamu bertanya, "Apa salahnya memperhatikan detail?"

Kesalahannya bukan pada perhatian terhadap detail, melainkan pada prioritas. Tugas seorang manajer adalah mengelola orang dan strategi, bukan mengerjakan ulang tugas operasional. Ketika seorang pemimpin fokus pada "bagaimana" (cara kerja), mereka sering kali melupakan "mengapa" (tujuan besar). Ini menciptakan hambatan yang menghambat pertumbuhan organisasi secara keseluruhan.

Jadi, Micromanagement: Baik atau Buruk?

Secara umum, micromanagement dianggap buruk. Namun, ada situasi langka di mana pengawasan ketat diperlukan, misalnya:

Dulu waktu masih kuliah keperawatan dan selama praktik selalu mendapat pengawasan dari kepala ruangan di rumah sakit. Sebagai mahasiswa yang baru belajar tentunya kepala ruangan atau Clinical Instruktor memastikan tindakan yang dilakukan sesuai dengan SOP yang benar sehingga pasien aman dan nyaman. Namun untuk selanjutnya biasanya kepala ruangan akan menghargai otonomi karena sudah cakap melakukan tindakan dan tidak perlu pengawasan detail lagi. Di titik ini saya merasa banyak belajar dan dihargai.

Lalu,

Saat menangani krisis besar yang memerlukan koordinasi detik-demi-detik. Misal tim pemadam kebakaran hutan dan lahan, membutuhkan koordinasi dan pengawasan tingkat tinggi.

Saat sebuah proyek sedang berada dalam kondisi gagal total dan membutuhkan intervensi darurat.

Dan, kamu juga bisa memikirkan beberapa contoh lainnya agar lebih memahami micromanagement lebih tajam lagi ;)

Di luar situasi tersebut, micromanagement adalah pola manajemen yang tidak berkelanjutan (unsustainable).

Cara Mengatasi Micromanagement (Solusi Ideal)

Upaya ini dapat dilakukan dengan dua sisi. Bagi yang sadar mengubah gaya micromanager menjadi empowerment (pemberdayaan), sisi lainnya bagi top management atau pemangku kebijakan di perusahaan memberikan pembekalan kepemimpinan kepada para manager agar tidak menjadi micromanager. Budaya empowerment semestinya dilakukan dengan langkah-langkah ini: 

1. Fokus pada Hasil (Outcome-Oriented)

Manajer harus belajar untuk menetapkan ekspektasi yang jelas tentang hasil akhir, bukan mendikte setiap langkah prosesnya. Biarkan tim mengeksplorasi cara terbaik untuk mencapai target tersebut.

2. Bangun Komunikasi Dua Arah

Alih-alih memberikan instruksi searah, lakukan dialog. Tanyakan pada tim, "Apa yang kamu butuhkan dariku agar tugas ini sukses?" atau "Bagaimana rencanamu untuk menyelesaikan ini?". Pemimpin memposisikan diri sebagai pelayan dalam upaya pencapaian oleh timnya.

3. Delegasi dengan Tanggung Jawab Penuh

Delegasi bukan hanya memberikan tugas, tapi juga memberikan wewenang untuk mengambil keputusan terkait tugas tersebut. Percayakan tanggung jawab tersebut kepada mereka.

4. Tetapkan Jadwal Check-in yang Teratur

Daripada bertanya setiap jam, buatlah jadwal tetap (misalnya seminggu sekali) untuk meninjau progres. Ini memberikan ruang bernapas bagi karyawan sambil tetap memastikan proyek berjalan di jalur yang benar.

Kesimpulan

Micromanagement mungkin memberikan rasa aman sementara bagi seorang pemimpin, namun ia adalah racun bagi budaya kerja dan pertumbuhan jangka panjang. Dengan memberikan kepercayaan dan ruang bagi karyawan untuk berkembang, seorang pemimpin justru akan mendapatkan hasil yang jauh lebih luar biasa daripada yang pernah mereka bayangkan. Kreatifitas dan inovasi dapat tumbuh dengan sendirinya jika ruang empowerment selalu terbuka bagi tim demi keberlanjutan jalannya perusahaan.

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami pada "Formulir Kontak" yang telah disediakan. Terima kasih.