Kamu merasa diri lebih unggul atau minder, ada apa masalahnya?



Apakah kamu sering merasa diri lebih cakap/unggul atau bahkan sebaliknya merasa diri minder? perasaan itu menunjukan ada komponen kepribadian yang sangat menonjol yang memengaruhi alam pikiran sehingga menimbulkan perasaan itu, ini yang disebut ego. 

mengapa kita perlu mengenal kepribadian kita sendiri? Seorang Bapak Psikoanalisa Sigmund Freud (1923) mengemukakan teori kepribadian manusia. Ada 3 struktur kepribadian yang penting yang membentuk kepribadian manusia, yaitu id, ego dan superego

Id adalah komponen kepribadian alamiah dan naluriah sejak dilahirkan. Tindakan yang dilakukan cenderung spontan tanpa memikirkan konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan. Seperti komponen biologis, keinginan sex, lapar, haus, dll. 

Sebagai contoh Agus menunggu hidangan kopi di cafe karena terlalu lama menunggu dia langsung mengambil dan minum kopi pada meja sebelah yang siap diminum.

Ego adalah komponen pengambilan keputusan kepribadian. Bila seseorang tidak menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapi maka dia akan berusaha dan berusaha mencari solusi sampai menemukannya. Seseorang akan berusaha memahami dalam bertindak sesuai dengan fakta yang dirasakan. 

Sebagai contoh Andi merasa lapar, maka Andi tetap bersabar menunggu pesanan makanannya meskipun ada makanan di sebelah mejanya sudah siap.

Superego adalah komponen kepribadian yang memahami aspek moral yang didapatkan dari lingkungan sekitar maupun berasal dari nilai-nilai keagamaan. Superego ibarat kontrol perilaku seseorang. Sama juga dengan ego dalam mencapai keputusan akan sesuatu, namun superego lebih di dasarkan pada nilai-nilai moral maupun keagamaan. 

Contoh Udin tidak jadi mengambil buah tanaman tetangga dekat rumah karena itu tidak baik dan melanggar norma agama menyebabkan dosa.

Kembali kepada ego, kita mungkin sering berhadapan dengan orang yang memiliki ego berlebihan. Ketika ego mendominasi pikiran kamu, maka lambat laun akan membentuk pola pikir dan kepribadian yang mencolok dalam bertindak. Selalu orang lain yang disalahkan, sementara diri sendiri selalu benar. Orang yang egonya berlebihan cenderung larut dengan alam pikiran rasional yang dibangun diri sendiri tanpa memahami realita yang ada. Ada kesan tidak mau mencoba memahami orang lain dan menganggap orang lain tidak penting.

Keyakinan, pengetahuan, prinsip pribadi, dan kemampuan diri turut berkontribusi membangun ego. Bila yang dibangun sebuah persepsi negatif tentang diri dan orang lain maka akan menimbulkan perasaan merasa lebih tinggi atau bahkan minder yang sebenarnya ini mungkin tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. 

Misalnya "aku orang pandai", "aku tidak pintar melakukannya", "aku pandai mengerjakan apa saja", "aku introvert", dan lain-lain.

Ego terbentuk dan membentuk ke-aku-an atau kedirian, serta citra diri sendiri untuk mendapat persetujuan dari orang sekitar. Rasa percaya diri berkaitan dengan ego yang positif. 

Sebenarnya ego tidak selalu negatif, namun yang menjadi persoalan jika ego mendominasi cara berpikir kamu sehingga orang sekitar bersikap tidak menerima, mencemooh, atau bahkan mungkin mengolok-olok kamu. Jika terjadi demikian, kamu perlu instropeksi diri dan mencoba mengendalikan ego agar semuanya berjalan serasi. Berikut ini beberapa cara yang dilakukan untuk mengendalikan ego.

Kurangi berbicara perbanyak mendengarkan
Cobalah untuk mengontrol ego yang dominan dengan lebih banyak mendengarkan orang lain. Mendengarkan dengan baik menjadi cara berperan dan diakui menjadi dasar dalam mengambil keputusan secara bijaksana. Jadilah pendengar yang baik bagi orang lain. Mendengarkan dengan bijaksana melatih berpikir secara rasional mengikis rasa ego yang tinggi dan senantiasa menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan diri sendiri. 

Memahami motivasi diri
Coba berpikir sejenak untuk mengetahui apa yang menjadi motivasi diri dalam mengerjakan sesuatu. Ego memaksa untuk fokus pada hasil yang akan dicapai sedangkan diri kamu berkata sebaliknya. Ingin melakukan banyak hal untuk mendapatkan pelajaran/pengalaman berharga dan mesti harus tersugesti untuk selalu sukses. Namun perlu diingat bahwa belajar tidak mesti bicara kesuksesan tetapi belajar dari kegagalan juga merupakan proses belajar.

Memahami bahwa hidup adalah proses
Seseorang yang memiliki ego yang terpuaskan tidak peduli dengan proses, yang penting hasil tercapai dan melebihi orang lain. Mengatasi ego dengan menikmati setiap proses dalam hidup dan berusaha dengan baik.

Proses hidup senang sedih, marah, dan lainnya dilewati dengan baik menjadi hidup jauh lebih bermanfaat, bukan mencapai tujuan semata. Belajar dari pengalaman ini membuat kita semakin memahami cara kita mengikis rasa egois.

Ubah pandangan mengenai kesuksesan
Orang yang memiliki ego yang tinggi bisa jadi terperangkap pada salah satu makna kesuksesan dengan mencapai hasil yang secara langsung dapat dinikmati misalnya jabatan/pangkat, hadiah, dan lainnya. Cara pandang ini sebenarnya hak setiap individu. Namun kesuksesan tidak hanya dapat diukur dengan sesuatu yang langung bisa dinikmati dari pada sekedar uang maupun jabatan.

Cobalah sadari bahwa kesuksesan itu juga bagian dari proses atau perjalanan. Ketika mencapai kesuksesan kita tidak menyombongkan diri, melainkan tidak lupa juga memuji orang lain yang terlibat mendukung mencapai prestasi tersebut. Dengan ini kamu belajar untuk mengatasi ego besar dengan berbagi kesuksesan dengan rekan-rekan maupun orang lain.

Belajar untuk berkompromi
Seringkali orang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki ego yang tinggi. Sikap tidak mentolerir sebuah kekeliruan/kesalahan meskipun kecil dirasakan sebagai kekuatan dijadikan tindakan ideal untuk sebuah solusi persoalan. Hal ini sering menimbulkan masalah dalam hubungan dengan rekan sekerja sehingga membuat komunikasi tidak efektif. 

Mengontrol ego diri adalah sebagian besar membiaskan diri untuk mengambil benang merah dengan orang lain. Bila dihadapkan pada jalan buntu sebaiknya kamu instropeksi diri apakah kamu merasa superior atau minder/inferior? Mencoba sikap mengalah untuk mengurangi faktor pendorong perseteruan dan tentukan apa yang penting yang akan dicapai bersama tim. Namun nilai kepribadian yang positif dan penting tetap juga dapat dipertahankan.

Memaafkan dan ikhlas
Memaafkan diri sendiri dan orang lain serta menerima dengan ikhlas bisa dijadikan cara yang ampuh melepaskan ego yang berlebihan. Terlalu menyesali dan memikirkan terlalu dalam hal-hal yang telah terjadi tidak dapat mengubah apapun. Apa yang diinginkan tidak selalu apa yang dibutuhkan oleh sebab itu selalu ikhlas.

Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain
Manusia adalah makhluk yang unik tidak bisa dibandingkan antara satu dengan yang lainnya. Bila kamu mencapai kesuksesan dari pada orang lain, ego akan selalu membuat kamu merasa lebih layak dari pada orang lain. Sebaliknya bila dirasa tidak
 sukses, ego akan men-justice membuat kamu merasa rendah dan tidak ada gunanya.

Oleh sebab itu jika ego dikendalikan itu berarti menghargai diri sendiri dan dengan sadar tidak patah semangat untuk melakukan agar lebih baik lagi. Membandingkan diri dengan orang lain tidak selamanya salah sejauh itu hal-hal yang positif.


Referensi:
1. https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/cara-mengendalikan-ego-adalah/
2. https://id.wikihow.com/untuk-Tidak-Memiliki-Ego-yang-Besar

Comments

Popular posts from this blog

Drive penyimpanan foto video tanpa mengurangi kualitas gambar asli

Motif Tato Dayak Iban yang Terkenal

Jarum suntik: cara penggunaan dan risikonya.