Bukti kemahakuasaan Jubata, Tuhan dalam Dayak Kanayatn?

Nyangahat Doa Syukur kepada Jubata
Pertama-tama tulisan ini sepenggal pendapat, permenungan dan pemahaman Saya sebagai seorang Dayak Kanayatn dalam memahami Jubata dibantu dengan literatur yang ada dalam kaitannya dengan Tuhan secara umum. Mungkin juga pemahaman ini tidak jauh berbeda dengan saudara Dayak lainnya. Untuk membahas Jubata dalam konteks agama akan panjang ceritanya, butuh pengalaman, pemahaman tingkat tinggi, penelitian dan peninjauan lebih lanjut.😀😀


Tidak ada literatur yang rinci dari mana asal kata "Jubata", dengan demikian untuk mengerti dan memahami konsep Jubata juga tidak sesederhana yang kita pikirkan. Memahami kata Jubata tidak cukup hanya diucapkan saja, melainkan ada keterkaitan dengan adat-istiadat, mithe, kejadian alam semesta, dan penciptaan manusia. 

Dayak Kanayatn yakin bahwa ada ruang lingkup kehidupan yang keduanya erat berkaitan, yaitu dunia nyata yang terdiri dari makhluk hidup, makhluk tak hidup, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, sedangkan dunia maya adalah balis (iblis), bunyi'an atau "hantu baik", antu, sumangat urakng mati (roh-roh orang yang sudah meninggal), dan Jubata. Untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara kedua dunia ini, maka nenek moyang Dayak kanayatn menyusun sebuah aturan-aturan yang mesti ditaati dari generasi ke generasi ini yang dinamakan Adat. Masyarakat Adat Dayak meyakini segala sesuatu yang ada di alam berasal dari Jubata. Dia yang sangat baik, murah hati, adil dan menghukum perbuatan-perbuatan yang jahat. 

Jikalau demikian apa kriteria Jubata dalam bahasa Dayak kanayatn setara dengan Tuhan yang kita sebut dan sembah? Secara sederhana namun perlu pendalaman lebih lanjut, ke-Tuhanan Jubata kita ketahui dan terungkap dari:

Nyangahatn (doa asli)
Dalam rumusan Nyangahatn yaitu doa yang dibaca oleh panyangahatn. Pada bagian awal doa disebutkan Jubata memiliki 7 sifat yang dilafalkan secara tegas, jelas dan lantang dengan memanggilnya dengan potekng baliukng (besi kapak beliung) sebanyak 7 kali yaitu:


Asa'...
dua...
talu...
ampat...
lima...
anam...
tuujuuhhh. 

Ketujuh sifat itu Jubata itu adalah  

Ne’ Panitah adalah Jubata yang bersabda untuk melakukan yang baik dan memimpin alam semesta.

Ne’ Pangira adalah Jubata Yang Maha Tahu dan yang memberikan ilmu pengetahuan kepada manusia.

Ne’ Panampa adalah Jubata Sang Pencipta alam semesta dan semua makhluk di dalamnya.

Ne’ Pangadu’ adalah Jubata tempat orang memohon doa dan permintaan. 

Ne’ Pangedokng adalah Jubata yang melihat, mengawasi, dan memperhatikan. Dalam hal ini Jubata sebagai tempat memohon untuk mendapatkan solusi permasalahan yang baik, cocok atau tidak cocok. 

Ne’ Pajaji adalah Jubata yang memberikan berkat, rezeki, untung dan tuah, serta yang memelihara ciptaan Ne' Nange (Allah Yang Maha Kuasa).

dan Ne’ Pangingu adalah Jubata yang memberikan perlindungan.

Kata Ne' di sini bukan mengarah pada personal, melainkan berarti "Kamu Yang". Memanggil Jubata dengan suara yang jelas dan lantang karena Jubata patut disembah dan dimuliakan seperti dalam ungkapan "Oooooo....kita' Jubata.."

Terdapat ujud/doa yang disampaikan kepada Jubata. Diyakini juga Jubata sangat baik tempat manusia memohon ampun atas kesalahan yang diperbuat. Manusia bisa memaafkan kesalahan, namun tidak dapat mengampuni dosa yang hal ini hanya dapat dilakukan oleh penguasa alam semesta seperti Jubata. 

Kemudian sebelum doa dilantunkan, terlebih dahulu mempersiapkan seperangkat persembahan yang tidak diberikan kepada manusia siapapun melainkan untuk kebutuhan adat nyangahatn saja yang ditujukan kepada Jubata yang patut menerimanya.

Kemudian juga Jubata yang selalu diucapkan dalam setiap nyangahatn adalah Tuhan yang kekal. Jubata disembah turun-temurun, dari generasi ke generasi. Oleh sebab itu melestarikan budaya ini sama saja menjunjung tinggi Jubata selaku Tuhan Yang Masa Esa (Jubata Ne' Nange).


Tuhan juga berkenan kepada manusia yang berkenan kepada-Nya, memanggilnya melalui perantaraan Bujakng Pabaras yang dilambangkan dengan menghamburkan biji beras tujuh biji terucap dalam bamang (doa) : "Aaaa.. ian Kita’ Bujakng Pabaras, Kita’ nang ba tongkakng lanso, nang ba seap libar, ampa jolo basamptn, linsode batinyo saluakng jannyikng......dst"

Moto " Adil Ka' Talino Bacuramin Ka' Saruga Basengat Ka' Jubata"Dalam moto ini lagi-lagi Jubata menjadi sentral kehidupan manusia sebagai sumber kehidupan, tempat hidup abadi di Surga, dan memperlakukan manusia dengan adil. Moto ini pertama kali dicetuskan oleh Alm. Bapak Bahaudin Kay, sebagai Pengurus Dewan Adat Dayak Kabupaten Landak dan Kab Pontianak 2002 silam.

Tempat-tempat suci/keramat panyugu atau padagi
Biasanya suku Dayak sering mengunjungi tempat-tempat keramat bukan tanpa alasan, alasan utama untuk melakukan prosesi adat di sana. Tempat-tempat suci ini merupakan tempat yang dikeramatkan yang berada - biasanya - di puncak bukit, sebab Jubata Yang Maha Tinggi juga dipanggil dari sana, kemudian dirasakan pula Jubata hadir dalam acara ritual adat tersebut. 

Dari beberapa pembahasan di atas, jelaslah bahwa Suku Dayak sangat mengenal Tuhan sebagai asal-usul hidup mereka, jadi sangat keliru dan salah besar bila dikatakan kafir. Persamaan yang selalu diingkari oleh pemeluk non-Kristen pada perbedaan pengucapan dan cara menghadap-Nya saja. Pada perkembangannya memang semua kelompok suku Dayak memahami bahwa sebutan Tuhan pada setiap masing-masing bahasa mengacu Tuhan Allah yang disembah dalam agama-agama. Selanjutnya bagaimana mengenai pendapatmu? 

Sumber Inspirasi:
http://dayak-side.blogspot.co.id/2012/03/sejarah-moto-adil-ka-talino-bacuramin.html
http://dayaktalino.blogspot.co.id/2016/05/konsep-jubata-menurut-adat-suku-dayak.html

Comments

Popular posts from this blog

Daftar Blog atau Situs Web di Google Webmaster.

Jarum suntik: cara penggunaan dan risikonya.

Memperbaiki Eror Struktur Data hAtom Markup Microformat pada Structured Data Testing Tool.