19 January 2017

Sekitar Perawatan Luka Penderita Kencing Manis.


Mungkin pembaca semua agak bingung mengapa penulis mengangkat judul di atas. Banyak pengalaman yang dialami penulis ketika berhadapan langsung dengan banyak orang yang berobat di fasilitas kesehatan. Tulisan ini merupakan salah satu cerita dan pengalaman dari sekian banyak yang lainnya tentang bagaimana seorang yang sakit kencing manis hanya dalam waktu 1 sampai dengan 2 minggu sudah mengalami luka yang serius butuh penanganan intensif bukan cuman diobati dengan rivanol atau betadine saja. Sebelum kita lebih jauh baiklah kita memahami apa sebenarnnya kencing manis itu sederhananya?
 
Kita semua tahu sakit kencing manis merupakan penyakit yang terjadi/berproses dalam jangka waktu yang lama atau kronis. Penyakit ini tidak terjadi secara kebetulan dan begitu saja. Seseorang yang menderita kencing manis tubuhnya gagal memroses glukosa (semua makanan yang dimakan menjadi glukosa dalam tubuh yang kita sebut gula) menjadi energi karena kerusakan sel-sel pankreas sebagai penghasil insulin yang memrosesnya. Gejala awal yang paling umum dirasakan oleh seseorang yang menderita penyakit kencing manis adalah banyak minum (merasa haus melulu), banyak makan (merasa lapar melulu) dan banyak kencing.

Singkatnya seseorang yang kencing manis terjadi kerusakan pada pankreasnya sehingga gagal memproduksi insulin yang adekuat atau cukup. Guna insulin ini ibarat sebagai kunci pintu yang membuka sel otot kita agar gula tadi bisa masuk menjadi cadangan energi yang siap pakai untuk aktifitas keseharian.


Oleh karena produksi insulin yang kurang tadi akibatnya terjadi situasi dimana glukosa (gula) tertumpuk di dalam peredaran darah. Hal ini dibuktikan dengan pemeriksaan gula darah pada jari tangan menunujukan peningkatan kadar gula dari batas normalnya.  Kadar gula yang tinggi dalam peredaran darah ini dapat merusak saraf, organ tubuh dan media yang sangat subur dan cepat untuk pertumbuhan bakteri bila anggota tubuh mengalami luka. Hanya dengan luka kecil karena gigitan serangga yang kecil saja luka dapat segera memburuk.

Tidak jarang penderita kencing manis yang tidak mendapat perawatan luka yang baik dan rutin berujung pada amputasi sebagian atau seluruh bagian tubuh yang terkena luka parah. Hanya dengan bermodalkan cuci "begitu saja" dengan air, cairan rivanol dan/atau betadine tidak cukup bahkan luka lama kelamaan mengeluarkan bau menyengat. Herannya banyak tenaga kesehatan (tidak semuanya) tidak melakukan perawatan luka kencing manis dengan baik, karena alasan jijik dan lain sebagainya sehingga menambah penderitaan pasien ini.

Dalam situasi seperti ini mungkin kita semua pernah mengalami atau mendengar sanak keluarga, tetangga yang melaporkan datang berobat dengan luka yang parah karena penyakit kencing manis tanpa penanganan yang serius baik dari komitmen penderita maupun dari fasilitas kesehatan yang pernah mereka datangi? Banyak orang tidak mendapatkan informasi atau penyuluhan yang memadai dari fasilitas kesehatan yang pernah mereka datangi sehingga saat pulang berobat penderita masih menemui jalan buntu tidak yakin dengan pengobatan yang didapatkannya.

Luka Kencing Manis
Banyak orang mungkin menyangka bahwa sebuah luka yang ringan, sedang dan berat cukup diobati dengan meneteskan, menempelkan atau bahkan cuman mengoleskan obat saja sudah cukup tinggal menunggu obat bekerja dan mengharapkan luka sembuh! Bisa benar juga bisa keliru. Cara-cara di atas bisa dilakukan tergantung kondisi lukanya. Untuk luka-luka yang ringan seperti tergores dan lecet dapat dilakukan hanya dengan menempelkan atau meneteskan obat pada lukanya tanpa melakukan pembuangan jaringan yang masif. Namun untuk luka akibat penyakit kencing manis tidaklah cukup dilakukan demikian. 

Penggunaan alkohol dan povidone iodine (betadine) sejak lama tidak dijadikan lagi sebagai cairan primadona perawatan luka rutin karena obat ini sangat iritatif dan dapat merusak jaringan sekitar luka dengan membunuh sel kesembuhan yang dinamakan makrofage. Makrofage tinggal dalam sirkulasi darah dalam jumlah yang banyak. Makrofage tidak bekerja sendirian dalam melawan dan membunuh kuman berbahaya sekitar luka. Makrofage terbentuk dari sel darah putih monosit yang berfungsi sebagai pertahanan dengan "memakan" kuman penyebab infeksi sekitar luka dan mempercepat proses kesembuhan. 

Sebaiknya dalam melakukan perawatan luka akibat kencing manis juga harus mempertimbangkan kehidupan sel makrofage ini. Ingat! prinsip perawatan luka adalah  

"Jangan teteskan pada luka bila kita tidak mau itu diteteskan pada mata kita"

Seperti halnya mata kita, luka juga memerlukan kehati-hatian dalam penanganannya. Luka kencing manis paling sering terjadi di kaki karena kaki sangat mudah mengalami cedera karena langsung kontak dengan lingkungan sekitarnya. Awalnya luka kecil akibat gigitan serangga, goresan benda asing, tertusuk benda tajam atau lecet. Sayangnya luka-luka ini tidak disadari bahkan tidak dirasakan oleh penderita karena telapak kaki terasa kebas atau mati rasa akibat kerusakan saraf. Mula-mula merah, bengkak, dan panas lama kelamaan mengalami pertambahan ukuran dan luasan infeksi. Pada tahap ini terkadang penderita baru menyadari butuh pertolongan. Kebanyakan mereka langsung bisa mengetahui atau mungkin baru mengetahui setelah diperiksa gula darah menderita penyakit kencing manis. 

Pada situasi ini sangat riskan luka akan mulai bernanah, pecah dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Persepsi penderita juga kadang muncul dengan mencari obat alternatif lain dalam melakukan perawatan luka, kebanyakan luka tidak diperlakukan secara bersih, justru kondisi luka semakin memburuk. Setelah itu penderita mulai berobat dan parahnya mendapatkan perawatan luka dengan hanya diberikan kompres rivanol atau betadine kemudian ditutup saja tanpa dilakukan tindakan perawatan luka yang menyeluruh. Obat kencing manis diberikan dan diberikan obat antibiotik yang tidak memadai. Memang hal ini tidak semua terjadi pada setiap penderita kencing manis.

Hari demi hari penderita mencuci lukanya hanya dengan melakukan kompres menggunakan rivanol atau betadine atau dengan metoda alternatif, sehingga jaringan sekitar luka semakin memburuk nanah semakin banyak. Faktor ini memburuk lagi ketika gula darah tidak terkontrol.

Apa yang mesti dilakukan?
Tentu saja stop penggunaan betadine atau rivanol, datang kepada perawat luka profesional. Luka akan dilakukan pembersihan secara total mulai dari membuang jaringan mati sekitar yang menutupi luka (jaringan mati berwarna kehitaman) dan mengeluarkan nanah sebanyak mungkin. Prinsipnya pertahankan luka tetap dalam keadaan lembab tidak kering agar proses kesembuhan dan pertumbuhan jaringan tidak terhambat. Untuk mempertahankan kondisi luka dalam keadaan lembab cukup memasukan kasa lembab mengisi seluruh rongga luka kemudian luka ditutup lagi dengan kasa kering (metode wet to dry). Cairan yang digunakan bisa dengan air yang sudah masak atau cairan infus NaCl 0,9%. Tindakan ini rutin dilakukan perawat profesional setiap harinya seraya dokter juga meresepkan antibiotik yang memadai membunuh kuman penyebab bau tersebut.


Madu.
Berikan madu untuk setiap fase pencucian luka. Pemberian ini merupakan proses terakhir dalam pencucian luka. Biasanya setelah pengangkatan jaringan mati setelah mengeluarkan nanah sebanyak mungkin, langkah selanjutnya oleskan madu pada luka. Ada yang menggunakan madu dengan menambahkan gula pasir sebanyak takaran madu dicampur bersama-sama kemudian oleskan pada luka. Terus dilakukan demikian setiap harinya. Madu yang dicampur bersama gula pasir mampu menyeimbangkan pH luka sehingga mendukung suasana kesembuhan luka.

Selanjutnya frekuensi pencucian luka tergantung dengan kondisi dan perkembangan luka. Pada luka yang jelek perawatan dilakukan 1 sampai 2 kali sehari, kemudian bila luka sudah menunjukan kemajuan kesembuhan yang signifikan dapat dilakukan pencucian 2 hari atau bahkan 1 kali seminggu. Penting juga perhatian dan kemandirian keluarga menjadi perhatian selama penderita menjalani perawatan di rumah. Keluarga yang sudah di latih juga harus melakukan perawatan luka, sehingga terjalin kerjasama antar petugas kesehatan dan penerima layanan perawatan kesehatan dalam mempercepat kesembuhan luka kencing manis yang diderita pasien.
Post a Comment