17 January 2017

Mengikuti Upacara Adat Kematian Tionghoa.



Bukan sengaja dan kebetulan juga mengikuti upacara adat kematian Tionghoa yang dilaksanakan pada hari Minggu, 13 Oktober 2013 yang lalu. Mengikuti upacara ini berawal dari salah satu ibu dari umat Katolik yang beragama Budha meninggal dunia pada hari Jumat pagi sebelumnya karena sakit yang keras. Mengikuti upacara ini bukti kebersamaan dalam perbedaan yang terjalin erat.


Mengikuti acara-acara yang dilakukan oleh masyarakat adat Tionghoa sudah tidak asing lagi bagi umat Katolik di Sukadana Kabupaten Kayong Utara. Hubungan berbeda agama dan kepercayaan ini sudah lama terpupuk dan terus terpelihara dan dipoles dengan beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara kedua masyarakat adat ini. Sungguh suatu hubungan persaudaraan yang tidak dapat dibayar dengan apapun saat ini. Pada hari-hari sebelumnya anak tertua ibu yang meninggal ini yang beragama Katolik mengajak berdoa di rumah duka Yayasan Pekong. Saya tidak tahu persis waktu itu apakah sanak saudara lain menerima keputusan ini. Singkatnya, kami melaksanakan doa dan berkumpul dengan semua tamu dan sanak-saudara pada malam itu. 

Setelah berdoa saya dan beberapa umat Katolik lain melanjutkan membuat karangan bunga di rumah duka Yayasan Pekong yaitu membuat karangan bunga sederhana ucapan turut berduka cita dari umat Katolik Sukadana. Ditengah-tengah senda-gurau membuat karangan bunga itu ada banyak keluarga duka berdatangan dan berdiskusi singkat dengan tim kami malam itu. 


Kala itu salah satu dari keluarga duka mungkin beragama gong hu chu berbicara dalam bahasa Tionghoa di sela-sela pembicaraan mereka saya mendengar kata "Katolik hoo". Barangkali teman bapak itu bertanya siapa yang membuat karangan bunga ini. kemudian dijawab oleh si bapak dari umat Katolik yang membuat karangan bunganya. 

Meskipun dibedakan dengan serumit latar belakang baik dari segi bahasa, agama dan kebudayaan saya memahami umat Katolik hadir ditengah mereka sebagaimana Allah hadir bagi semua orang. Kerukunan seperti ini yang kita harapkan di mana setiap orang merendahkan diri membuat diri menjadi sama dengan yang lainnya sehingga terjalin hubungan erat dan akrab.

"Pak Wil besok pagi kita ngarak jenasah ke pemakaman ya, soalnya ndak enak..paling tidak ada umat Katolik yang ikut ke sana" kata salah satu sanak saudara yang berduka. 
"jam berapa" jawab saya. "jam 7.30 lah sudah ada si tempat" kata sebut saja Apiau salah satu keluarga berduka. 

Keeseokan harinya saya bergegas pergi dan setibanya di rumah duka Yayasan saya melihat ada banyak orang menyaksikan prosesi ritual. Di luar ruangan tampak 4 orang menabuh gendang khas Tionghoa.


Sebelum peti/konsoi di angkat di mobil terlebih dahulu diadakan doa dengan menghadap pada matahari terbit di halaman rumah duka Yayasan yang dipimpin oleh pendeta. Pada prosesi ini sanak keluarga selanjutnya menggunakan pakaian serba putih dengan baju bagian dalam terbalik.



Setelah acara ini para sanak-saudara menuju ke dalam  rumah duka tepatnya di dekat peti mati/konsoi. Peti mati kemudian diangkat di atas mobil dengan diikuti sanak saudara, anak, cucu, dan lain-lainnya. Sambil diiringi oleh tabuhan gendang mobil melaju ke arah tempat pemakaman Tionghoa kira-kira 8 km tepatnya di daerah Gunung Lalang, dusun Mentubang, desa Harapan Mulia. Iring-iringi diikuti oleh orang ramai oleh keluarga, simpatisan maupun warga hanya sekedar untuk melihat prosesi pemakaman berlangsung. 

Di panas terik matahari pagi, membangkitkan penasaran saya akan prosesi itu. Sesampainya di tempat pemakaman peti mati diangkat ramai-ramai dan diletakan pada tanah yang sudah dicangkul sedemikian rupa dan diberikan bantalan 2 balok kayu sebagai penahan setiap ujung konsoinya. Sebelum ditutup dipastikan konsoi tidak miring. Kemudian konsoi ditutup lagi dengan papan yang sudah dipaku berbentuk persegi panjang seperti bak.


Sebelum ditimbun dengan tanah, terlebih dahulu semua keluarga masing-masing mengambil tanah dan memasukannya pada kotak batas penutup konsoi tersebut. Kemudian diambil alih oleh petugas penimbun, box diisi dan ditimbun sampai penuh dengan menyisakan tonjolan pada posisi bagian kepala jenasah.
Selesai menimbun semuanya tiba waktunya penghormatan terakhir dengan beberapa acara doa dan pembakaran gaharu yang dipimpin oleh pendeta. Prosesi ini berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Kemudian berakhirlah prosesi pemakamannya.


Semua orang siap-siap pulang ke rumah masing-masing. Saya juga pulang ke rumah. Sementara sanak-saudara yang berduka tetap menuju rumah duka Yayasan Pekong. Melanjutkan acara khusus keluarga di sana.

Sepenggal cerita pemakaman ini adalah penggalan pengalaman saya. Pastinya ada banyak hal yang terlewat yang berhubungan dengan acara pemakaman secara keseluruhan. Ada banyak foto yang saya ambil waktu itu. Maklum saja mungkin keluarga tidak sempat memikirkan juru kamera buat dokumentasi. Saya mencoba membuat foto dan video rekaman seadanya dengan hp seadanya agar kiranya dapat saya berikan selanjutnya pada keluarga yang berduka sebagai foto-foto kenangan nanti.
Post a Comment